Industri Kimia dan Nilai Tambah SDA

134

Sumber daya alam (SDA) Indonesia sangat kaya, baik dalam jumlah maupun jenisnya. Namun pengelolaan dan pemanfaatannya belum optimal, karena masih dijual dalam bentuk bahan mentah (raw material), yang nilai tambahnya sangat rendah.

Rauf Purnama, Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, yang kini menjabat Presiden Direktur Asean Aceh Fertilizer dan sudah berhasil membangun beberapa industri kimia di Indonesia, mengatakan dalam rangka mengisi kemerdekaan yang diwujudkan antara lain dengan kemandirian, istilah Bung Karno Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), sebaiknya ditempuh dengan makin mengembangkan industri kimia. Sebab industri kimia akan memberi nilai tambah pada sumber daya alam (SDA) Indonesia yang sangat kaya. Namun pengelolaan dan pemanfaatannya belum optimal, karena masih dijual dalam bentuk bahan mentah (raw material).

Rauf memberi contoh, sebagian besar produksi gas alam masih diekspor sebagai LNG. Penggunaan gas alam sebagai bahan baku industri hanya sebesar 7,12%. Demikian pula dengan bahan mentah minyak kepala sawit CPO, masih relatif kecil diproses lebih lanjut di dalam negeri dibandingkan dengan Malaysia. Padahal dengan teknologi diversifikasi turunan sawit sangat mudah diimplementasikan sebagai industri kimia sesuai dengan standar industri berbasiskan iptek lokal saja.

Menurut tokoh yang telah merancang dan memimpin pembangunan beberapa proyek strategis dalam mengukuhkan pondasi industri pupuk dan kimia di tanah air ini, pertumbuhan industri kimia atau industri proses di Indonesia masih relatif rendah. Sehingga pertumbuhan ini mutlak perlu lebih ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang karena pasar sangat besar dan dinamis. Apalagi sampai saat ini impor bahan kimia Indonesia masih tinggi. Padahal potensi sumber daya alam negeri ini sangat melimpah.

“Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak 1997, semakin membuktikan betapa kita harus memperkuat industri kimia hulu. Karena industri kimia ini akan memberikan nilai tambah bagi sumber daya alam yang ada, baik sumber daya pertanian dan kelautan maupun pertambangan,” kata mantan Direktur Utama Petrokimia Gresik ini. Indonesia dengan sumber daya alam yang kaya itu, terutama sumberdaya hasil tambang, sangat memiliki kesempatan besar untuk menjadi produsen bahan kimia yang penting di dunia.

Karena itu, kata penerima penghargaan PATI (Persatuan Ahli Teknik Indonesia) 1996 ini, diperlukan adanya kebi-jakan dan pengaturan indus-tri petrokimia, agar semua usaha industri kimia bisa berjalan terpadu. Tidak sen-diri-sendiri seperti sekarang. Pertamina jalan sendiri, industri kimia lainnya jalan sendiri. Kebijakan dan peng-aturan ini perlu juga untuk menstimulir investor masuk usaha pengolahan SDA yang melimpah di Indonesia.

Perlu ditingkatkan upaya-upaya penguasaan teknologi, khususnya industri kimia, baik oleh instansi pemerintah maupun perusahaan BUMN dan swasta.

Pemikir dan pelaku industri ini lebih jauh memaparkan peranan industri kimia untuk meningkatkan nilai tambah SDA tersebut. Dijelaskan, in-dustri kimia merupakan penerapan ilmu kimia dalam rangka pemberian nilai tambah suatu zat atau bahan, sehingga bermanfaat buat kesejahteraan manusia dan alam sekitarnya. Sedangkan ilmu kimia itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari sifat, komposisi dan struktur dari zat (unsur dan senyawa), perubahan zat yang disertai pelepasan atau penyerapan energi dalam proses itu.
Sementara, bidang-bidang yang termasuk dalam industri kimia antara lain petrokimia, polimer, proses hasil pertanian termasuk pangan, produk farmasi, pengolahan air dan atau limbah, proses bahan tambang, dan bahan bagi industri kimia itu sendiri, seperti katalis, reaktor, unit operations, teknik kontrol dan lain-lain.

Menurutnya, Indonesia dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa tanah yang subur dengan berbagai sumber daya alam yang melim-pah ruah, seperti minyak, gas, batu bara, tembaga, nikel, emas dan lain-Iain.

Tapi saat ini, keluh sarjana teknik kimia alumni ITB yang telah membidani lahir-nya pupuk majemuk phonska ini, hampir 90% dari sumber daya alam dijual (ekspor) langsung dalam bentuk bahan mentah (raw material) atau barang yang belum diolah. Padahal semua itu bisa ditingkatkan nilai tambahnya.
Demi kemandirian, kita seharusnya tidak hanya bisa mengolah hasil alam dan kemudian menjualnya.

Kendati untuk tahap awal pembangunan, mengelola hasil alam dan kemudian langsung menjualnya, mesti dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran bangsa yang baru merdeka. Tetapi, dalam konteks kemerdekaan ke 58 tahun ini, kita sudah harus memikirkan bagaimana meningkatkan nilai tambah sumber daya alam itu melalui pembangunan industri.

Bahkan menurut CEO yang berhasil menyehatkan manajemen dan membesarkan PT Petrogres, sehingga sejajar dengan industri pupuk dunia itu, bukan hanya sumber daya alam dari hasil tambang saja yang bisa ditingkatkan nilai tambahnya tetapi dari udara pun bisa. Udara yang mengandung 79% Nitrogen dan 21% Oksi-gen, selain berguna untuk kehidupan manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, juga akan mempunyai nilai tam-bah yang sangat tinggi apa-bila diproses secara kimia. Sebagai contoh: pupuk yang kita kenal seperti Urea dan ZA yang mengandung unsur Nitrogen masing-masing 46% dan 21% yang berguna untuk meningkatkan hasil pertanian diambil dari udara.

Nitrogen dari udara direaksikan dengan Hidrogen yang berasal dari gas alam bisa menghasilkan Amoniak (NH3) yang selanjutnya diproses menjadi pupuk Urea dan ZA. Selain untuk produksi pupuk, Amoniak bisa diproses untuk mempro-duksi berbagai produk lain, seperti bahan peledak (Amonium Nitrat), bahan baku obat (farmasi) seperti PNCB (Paranitrochlorobenzene ), serat benang untuk industri tekstil seperti Kaprolaktam dan Hydrazine (N2H2) untuk bahan bakar roket.

Dari udara, bukan hanya Nitrogen saja yang bisa dibuat macam-macam produk, tapi juga dari unsur Oksigen (02) bisa dibuat bermacam-macam produk yang mempunyai nilai tambah yang besar. Dengan mereaksikan berbagai senyawa atau unsur lain dapat dihasilkan bermacam-macam produk. Sebagai contoh: Asam Formiat (HCOOH) yang dipergunakan untuk industri karet, industri teksil dan industri penyamakan kulit itu mengandung unsur Oksigen (udara) sebesar 69%.

Contoh lain, oksigen bisa menghasilkan Hidrogen Peroksida (H202) yang mengandung unsur Oksigen sebanyak 94%.
Hidrogen Peroksida banyak digunakan untuk industri tekstil, industri kertas dan membasmi kuman-kuman/virus (desinfektan) seperti SAR. Semua senyawa alkohol dan asam organik mengandung Oksigen, seperti metanol, etanol, oktanol, asam asetat yang digunakan untuk berbagai keperluan, seperti industri tekstil, industri plastik, bahan bakar kendaraan dan lain sebagainya.

Sumber daya alam seperti gas alam dan minyak bumi sudah waktunya untuk ditingkatkan nilai tambahnya. Dengan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam akan meningkatkan pendapatan negara dan juga bisa menghasilkan tambahan devisa, serta menambah lapangan pekerjaan.

Produk turunan migas mempunyai nilai tambah yang tinggi, seperti dari LPG, Kondensat dan Nafta. Sebagai contoh, dari Kondensat, LPG dan Nafta yang harganya sekitar US$ 200/ton bisa ditingkatkan nilainya menjadi di atas US$ 1500/ton apabila sudah menjadi serat/benang untuk industri tekstil (polyester). Dari Nafta juga bisa menghasilkan benzena yang apabila diproses lebih lanjut bisa menghasilkan benang nilon yang nilai jualnya bisa mencapai US$ 1600 per ton, jauh lebih tinggi dari pada harga Nafta yang harganya US$ 200/ton.

Hal tersebut hanya sebagian kecil contoh dari hasil tambang yang bisa ditingkatkan nilai tambahnya. Masih banyak produk-produk yang mempunyai nilai tambah tinggi untuk berbagai keperluan industri, seperti untuk pangan, sandang, papan, transportasi, telekomunikasi, bahkan untuk kepentingan militer. Secara singkat, dari bahan mentah (raw material) yang berasal dari migas, jika diolah, bisa meningkatkan nilai tambah 2 sampai 10 kali lipat, atau mungkin bisa lebih dari itu.

Menurut CEO bertangan dingin ini, kemajuan suatu negara sangat dipengaruhi kemajuan teknologi dan industri kimia yang dimilikinya? Krisis ekonomi yang kita alami sejak 1997 telah memberi pelajaran berharga. Ketergantungan produk dan bahan baku dari luar negeri telah menjadi salah satu penyebab timbulnya kelemahan di sektor industri. Sementara kegiatan industri yang mengandalkan resource base pada umumnya tetap menunjukkan kinerja baik.

Apalagi bila industri berbasis bahan alam itu dikembangkan secara terpadu. Maka, menurut Ketua Yayasan Teknik Kimia ITB (1999-2004) ini, kini saatnya kita harus membangun industri kimia yang tangguh dan berdaya saing kuat dan terpadu dengan sektor hulu dan hilir. “Saya yakin bahwa industri kimia yang berbasis sumber daya alam akan bisa bersaing di pasar. Karena Indonesia mempunyai keunggulan komperatif yaitu selain bahan baku sumber daya alam, juga memiliki SDM dan pasar,” kata pemikir dan pelaku industri ini.

Menurutnya, masa Indonesia yang mempunyai potensi sedemikian besar kalah sama Singapura. Sebab Singapura sudah mempunyai rencana akan membangun industri petrokimia sampai tahun 2010. Ia mengingatkan, kalau Indonesia tidak meningkatkan pembangunan industri kimia dari sekarang, maka Indonesia akan menjadi pasar yang empuk bagi Singapura.