MELAWAN TEKSTIL CHINA (2), MAPPING INDUSTRI TEKSTIL

368

oleh Rauf Purnama, Dewan Insinyur PII

Di bagian pertama dari tulisan ini yang telah dimuat di Majalah Gatra edisi no 37 tanggal 21/27 Juli 2011 telah dipaparkan secara singkat mengenai sebab-sebab secara umum mengapa produk tekstil dari China telah berhasil merambah pasar dunia termasuk Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih pada rekan-rekan yang telah memberikan apresiasi dan masukkan-nya mengenai perbedaan pertumbuhan industri tekstil di China dan Indonesia. Bila harus melihat secara menyeluruh, tentunya banyak sebab yang melatarbelakangi keunggulan industri tekstil China sehingga memiliki daya saing tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan sekaligus kekuatan daya saing industri memang banyak antara lain meliputi dukungan kebijakan fiskal dan perbank-kan, infrastruktur, kemudahan perijinan, pengutamakan pasar dalam negeri, struktur industri yang kuat dan lain-lain. Namun dalam tulisan pertama yang telah dibahas sedikit banyak mengenai industri tekstil Indonesia ditinjau dari sisi struktur industrinya karena memang kompetensi utama penulis adalah dibidang industri. Penulis tidak memiliki kompetensi untuk menjelaskan sebab-sebab diluar itu seperti faktor perbank-kan, kebijakan fiskal, infrastruktur dan lain-lain.

Pengelompokkan industri
Sebelum masuk membahas permasalahan industri tekstil, perlu dikemukakan pengertian mengenai penglompokkan industri yang dibuat oleh Britannica Concise Encyclopedia. Industri didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang terorganisir untuk menghasilkan barang dan atau jasa yang menjadi sumber penghasilan dari organisasi yang bersangkutan. Dalam ekonomi, industri dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu industri primer, industri sekunder – atau sering juga disebut industri manufacturing/industri pengolahan- dan industri tersier (industri jasa).

Industri primer adalah industri yang mengekploitasi sumber daya alam untuk menghasilkan produk-produk primer seperti hasil pertanian, hasil pertambangan, kehutanan, kelautan dan lain-lain. Industri sekunder adalah industri yang mengolah hasil industri primer sebagai bahan bakunya menjadi barang-barang yang siap dipakai untuk kebutuhan manusia (consumer goods). Sedangkan industri tersier adalah industri yang menghasilkan jasa sebagai produk utamanya seperti antara lain bank, hotel, restaurant, asuransi, perbengkelan, pendidikan, perdagangan, transportasi dan lain-lain.

Industri Sekunder
Sesuai dengan bidang profesionalisme yang ditekuni penulis, tulisan ini akan membahas lebih jauh mengenai industri sekunder yang pada ujungnya terdapat industri tekstil sebagai salah satu cabang dari industri sekunder. Industri sekunder disub-kelompokkan menjadi 3 sektor yaitu industri hulu (upstream industry), industri antara (intermediate industry) dan industri hilir (downstream industry). Dilihat dari bahan baku dan produk yang dihasilkan, industri hulu mengolah produk hasil industri primer menjadi produk yang dipakai sebagai bahan baku industri antara. Produk industri hulu dapat disebutkan antara lain lembaran besi, lembaran tembaga, nikel, dan produk-produk petrokimia seperti ammonia, methanol dan lain-lain. Sedangkan industri antara (intermediate) adalah industri yang mengolah produk industri hulu menjadi produk antara atau bisa juga disebut sebagai barang setengah jadi, yang belum bisa dipakai sebagai consumer goods tapi merupakan bahan baku industri hilir yang menghasilkan consumer goods. Produk industri antara (intermediate) adalah antara lain seperti alloy (campuran berbagai jenis logam seperti stainless steel, dll), asam asetat, asam formiat, tepung beras, tepung jagung dan seterusnya. Selanjutnya industri hilir adalah sub-kelompok industri yang mengolah hasil produksi industri antara menjadi barang-barang siap pakai (consumer goods) seperti sepatu, pakaian jadi (tekstil dan produk tekstil/TPT) yang berasal dari industri petrokimia hulu, peralatan transportasi, alat rumah tangga, peralatan telekomunikasi, alat-alat pertahanan yang berasal dari industri hulu logam dan banyak lagi produk-produk Industri Hulu, Industri Antara sebelum dijadikan barang untuk kebutuhan manusia (consumer goods).

Dahsyatnya Pengaruh Industri Hulu (Basic Industry)
Tulisan ini akan mengemukakan konsep mengembangkan industri hulu yang strategis untuk mendorong tumbuhnya industri antara dan industri hilir yang secara keseluruhan menjadi faktor signifikan dalam meningkatkan kemakmuran bangsa dan negara. Kenapa industri hulu disebut sangat strategis karena dari industri hulu dihasilkan produk-produk yang selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai jenis produk industri hilir sehingga makin ke hilir makin banyak cabang industri dan jenis barang yang bisa dihasilkan seperti tekstil, sepatu, elektronik alat-alat rumah tangga, dan lain-lain. Dengan demikian semakin banyak tenaga kerja yang bisa diserap dan makin besar nilai tambah yang bisa dinikmati oleh bangsa dan negara.

Untuk lebih memperjelas hal ini, ambil contoh kondisi di Jepang. Dari jumlah perusahaan industri petrokimia hulu berbasis minyak yang terdiri dari 12 perusahaan mempekerjakan tenaga kerja hanya 3008 orang, dan menghasilkan nilai jual US$ 1,2 milyar (pada harga crude oil US$ 62,33/barrel) dapat dibangun 270 perusahaan industri petrokimia antara (intermediate) yang mempekerjakan 32.228 orang dengan nilai jual US$ 12 milyar (terjadi peningkatan nilai tambah 10 kali lipat). Selanjutnya industri petrokimia hilir (dalam hal ini industri tekstil dan barang-barang dari plastik) mencapai 61.349 perusahaan dengan penyerapan tenaga kerja 1,25 juta orang dan nilai jual US$ 89,55 milyar (peningkatan nilai tambah hampir 75 kali lipat dibanding nilai jual produk industri hulu-nya). Pada gambar 1 memperlihatkan angka-angka seperti yang diuraikan diatas.

Dari angka-angka tersebut dapat terlihat bahwa pengaruh industri hulu terhadap peningkatan nilai tambah, peningkatan jumlah lapangan kerja dan tentu saja peningkatan penerimaan negara dari pajak sangat luar biasa, sehingga hal ini secara signifikan dapat mendorong meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Karena dahsyatnya dampak dari industri petrokimia hulu maka pada tahun-tahun mulai tumbuhnya industri Petrokimia di China pada tahun 80-an, Pemerintah China membentuk Kementerian Industri Kimia, sedangkan India sampai saat ini ada Kementerian Kimia dan Pupuk.

Program dan Daya Saing
Setiap negara yang memperhatikan kebutuhan bahan baku sandang seperti Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk eksport tentunya memiliki program (perencanaan) yang matang dalam memperkuat struktur industrinya. Dalam persaingan global, struktur industri merupakan faktor yang dominan dibandingkan dengan faktor-faktor lainnya. Bahan baku dalam pembuatan serat polyester terdiri dari PX (Paraxylene), PTA (Purified terephtalic acid) dan MEG (Methyl Ethylene Glycol). Bahan baku tersebut (produk industri Hulu dan produk industri Antara sangat dominan dalam daya saing industri tekstil sehingga negara-negara yang berpenduduk besar seperti Taiwan, Korea, India, Jepang dan China produk-produk industri tersebut direncanakan dengan baik sehingga kebutuhan tekstil untuk negaranya bisa terpenuhi. Bagaimana dengan Indonesia dengan jumlah penduduk 237 juta jiwa. Mari kita bandingkan Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, tetapi dalam program perencanaan kesiapan bahan baku tekstil ternyata paling tidak siap, karena pada kurun waktu 5 tahun (2005-2010) jumlah tambahan kapasitas industri petrokimia hulu dan antara untuk bahan baku tekstil di Indonesia hanya 500 ribu ton (paraxylene) sedangkan negara lain seperti China (13 juta ton), India (3,95 juta ton), Taiwan (2,485 juta ton), Iran (3,43 juta ton) dan Thailand (2,44 juta ton) padahal Indonesia memiliki bahan baku yang lebih dari cukup (lihat table 2).

Tabel 2

Dari angka-angka ini makin jelas tergambar bahwa struktur industri petrokimia hulu dan industri antara yang menghasilkan bahan baku tekstil di Indonesia sangat ketinggalan dibanding dengan struktur industri petrokimia di beberapa negara tetangga tersebut. Dan inilah salah satu faktor yang menyebabkan kekalahan dalam persaingan industri tekstil Indonesia oleh China. Sebagai contoh lainnya, kita bisa melihat betapa industri karpet Iran (karpet adalah salah satu produk tekstil) terus berkibar sehingga produk-nya merambah dunia. Ini tiada lain karena didukung oleh ketersediaan bahan baku karpet yang dihasilkan dari industri petrokimia hulu (upstream industry).

Industri Hulu (Upstream Industry) Sangat Strategis
Begitu penting dan strategis-nya industri petrokimia hulu dapat dilihat dari konsep industri beberapa negara, baik negara berkembang maupun negara maju seperti Amerika. Pada tahun 2004, eksport hasil industri kimia/petrokimia Amerika Serikat mencapai US$ 108 miliar, suatu jumlah yang melebihi ekspor sektor pertanian dan pesawat terbang (sumber: European Chemical News). Dalam suatu diskusi tentang pengembangan industri, menurut Dr. Harry Sampurno (Direktur Pengembangan PT. Dahana) menyampaikan bahwa industri yang tidak boleh ditinggalkan oleh Pemerintah Amerika Serikat adalah Industri Pertahanan & Keamanan, Industri Kimia dan Industri Ruang Angkasa (defence, chemicals, aero space). Contoh lainnya adalah Singapura yang telah menetapkan industri petrokimia sebagai salah satu dari 3 pilar ekonomi Singapura. Dua pilar lainnya adalah industri elektronika dan industri jasa (services & engineering). Setelah petrokimia dijadikan pilar ekonomi, Singapura sangat serius membangun industri Petrokimia Hulu (Basic Industry) dengan membangun ethylene. Seperti diketahui ethylene adalah produk industri hulu yang sangat strategis karena bukan hanya untuk mendorong industri tekstil saja tapi juga sebagai bahan baku untuk industri pipa dan industri barang-barang dari plastik. Saat ini kapasitas ethylene Singapura mencapai 1,765 juta ton/tahun, paling tinggi diantara negara-negara Asean. Thailand memproduksi ethylene sebesar 1,735 juta ton, Malaysia 0,96 juta ton sedangkan Indonesia dengan jumlah penduduk diatas 230 juta jiwa hanya memproduksi ethylene 0,66 juta ton/tahun.

Beberapa negara Asia lainnya yang telah berhasil membangun industri hulu (petrokimia) sehingga struktur industri-nya relative kuat antara lain Jepang, Taiwan, Korea Selatan, China dan sekarang India. Kuatnya struktur industri petrokimia Hulu dalam rangka menunjang industri hilir di Korea Selatan tiada lain karena peran Pemerintah Korea sangat signifikan selama lebih dari 30 tahun. Perkembangan industri petrokimia hulu di Korea dibagi dalam 5 tahapan (era) yaitu era pengembangan (era of development) pada periode tahun 1966-1978, era pertumbuhan (era of growth) tahun 1979-1988, era loncatan (era of leap) tahun 1989-1997, era re-strukturisasi (era of re-structuring) tahun 1998-2003 dan era loncatan kedua (era of re-leap) pada periode tahun 2004-sekarang.

Pada era pengembangan sampai era loncatan selama lebih dari 30 tahun seluruh industri petrokimia hulu di Korea dibangun oleh Pemerintah. Baru pada tahun 1998 (saat dimulainya era restrukturisasi) peran Pemerintah mulai dikurangi dan peran swasta mulai ditingkatkan. Pada saat restrukturisasi tersebut, posisi industri petrokimia Korea telah mencapai posisi net-exporter dan perusahaan swasta Korea telah mampu dan sanggup untuk meneruskan peran Pemerintah dalam membangun dan mengembangkan industri petrokimia hulu.

Bila digambarkan dengan angka-angka, ambil contoh pertumbuhan kapasitas pabrik ethylene (sebagai salah satu produk petrokimia hulu bahan baku tekstil dan plastik) di Korea Selatan makin terlihat jelas kemajuannya. Pada era pengembangan (1966-1978), kapasitas pabrik ethylene hanya 115.000 ton per tahun, lalu pada era pertumbuhan kapasitas meningkat menjadi 505.000 ton per tahun. Peningkatan terus berlanjut pada era loncatan (1989-1997) kapasitas ethylene melonjak menjadi 4.330.000 ton per tahun (lebih dari 37 kali lipat era pertumbuhan), kemudian pada era restukturisasi yaitu pada periode dimana peran Pemerintah dialihkan ke swasta, kapasitas meningkat jadi 5.760.000 ton per tahun dan pada era loncatan kedua meningkat lagi jadi 6.922.000 ton per tahun (secara keseluruhan dalam jangka waktu sekitar 40 tahun Korea telah berhasil melipat gandakan kapasitas pabrik ethylene sebesar 60 kali lipat).

Kemudian bila kita lihat lebih jauh lagi, pada periode setelah peran Pemerintah dialihkan ke swasta yaitu pada era re-strukturisasi, pertumbuhan industri petrokimia hulu tidaklah mandeg seperti yang terjadi di Indonesia namun masih bertumbuh pesat. Setelah era restrukturisasi kapasitas ethylene tumbuh dari 4.330.000 ton menjadi 6.922.000 ton pertahun atau tumbuh 60 % dalam jangka waktu sekitar 7 tahun.

Gambaran angka diatas sangat ironis kalau dibandingkan dengan Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dan jumlah penduduk lebih empat kali lipat dibandingkan Korea, namun Indonesia hanya mampu membangun industri Petrokimia hulu ethylene sebagai bahan baku tekstil dan plastik dengan kapasitas 600.000 ton/tahun.
Konsep pengembangan industri hulu yang mirip Korea dimana peran Pemerintah sangat dominan telah dilakukan juga di beberapa negara lain-nya seperti China, Taiwan, India, Malaysia, Saudi Arabia, dan lain-lain. Adalah hal yang sangat logis bila Indonesia juga mau meniru apa yang dilakukan di Korea tersebut, apalagi Indonesia memiliki nilai lebih karena memiliki sumber daya alam yang relative lebih berlimpah dibanding Korea. Dengan basis import migas Korea telah berhasil membangun industri petrokimia. Menurut pendapat penulis, kita tak perlu malu meniru hal-hal baik yang pernah dilakukan oleh negara lain karena sudah terbukti apa yang mereka lakukan bisa meningkatkan kesejahteraan bangsa dan bisa dilihat pada GDP Korea Selatan pada tahun 2010 mencapai US$ 20.751 sedangkan Indonesia hanya US$ 3150.

Import dari India?
India adalah negara dengan jumlah penduduk nomor dua di dunia sehingga sudah tentu membutuhkan makanan dan pakaian dengan jumlah yang sangat besar. Memahami masalah ini India meniru China dengan membentuk Kementerian Industri Kimia dan Pupuk dengan tujuan untuk mempercepat dan mempermudah pembangunan industri kimia hulu (upstream industry). Dengan mengimport minyak mentah dan gas alam, India berhasil mengembangkan Industri Petrokimia hulu (termasuk pupuk) dengan jumlah yang sangat fantastis. Banyak proyek industri petrokimia dibangun di India untuk mendukung kebutuhan bahan baku polyester (bahan baku tekstil) dan mendukung industri pertanian.

Pemerintah India mendorong perusahaan-perusahaan baik BUMN maupun Swasta untuk membangun Industri Hulu dan Industri Antara Petrokimia yang tersebar di seluruh India seperti terlihat pada gambar nomor 3. Total kapasitas produksi yang sudah dan yang akan beroperasi tahun 2008 sampai tahun 2015 jumlahnya mencapai 23,06 juta ton/tahun termasuk Industri Hulu dan Industri Antara untuk Industri Tekstil seperti Ethylene Glycol (MEG), Paraxylene (PX) dan Purified Terephtalic Acid (PX) dengan jumlah kapasitas 12,59 juta ton/tahun.

Dengan berkembangnya industri penunjang untuk tekstil yang sangat luar biasa serta ditunjang tenaga kerja yang terampil dan relative lebih rendah dari pada tenaga kerja China, bisa-bisa bahan baku industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) Indonesia tidak lama lagi akan bergantung pada India. Hal ini bukan sesuatu yang mustahil apabila Indonesia tidak memiliki program seperti yang dilakukan oleh India dan China. Kelebihan lainnya adalah India sudah memiliki industri peralatan pabrik (mesin tekstil) sendiri hal ini membuat daya saing industri tekstil India makin kuat.

Gambar 3. Indian Projects Update

Program Pembangunan Industri Hulu dan Antara 2008-2015
Sumber: ICIS Chemical Business

Mapping Industri Tekstil Indonesia
Kembali ke masalah tekstil, terlebih dahulu perlu dilukiskan struktur keterkaitannya dari hulu ke hilir serta apa saja yang diperlukan sebagai material pendukungnya (lihat diagram balok 4).

Diagram Balok 4.

Dari diagram tersebut bisa dilihat bahwa industri tekstil Indonesia tidak hanya tergantung pada import bahan baku paraxylene saja tapi juga tergantung pada import bahan-bahan pendukung lainnya seperti acetic acid, ethylene glycol, dyes dan peralatan pabrik serta energy (harga listrik lebih mahal). Bahan pendukung yang sudah tersedia di dalam negeri hanya asam formiat dan hydrogen peroksida.

Agar industri tekstil kita mampu bersaing dengan industri tekstil negara lain seperti China, Korea dan lain-lain, tentunya struktur industri-nya yang harus dibenahi terlebih dahulu sehingga dicapai kondisi dimana industri tekstil nasional tidak tergantung kepada import bahan baku dan bahan-bahan pendukungnya. Dalam persaingan industri, faktor struktur industri merupakan faktor yang paling dominan dibandingkan faktor-faktor lainnya. Tentu saja untuk bisa bersaing di pasar global yang tingkat persaingannya makin tajam diperlukan faktor-faktor pendukung seperti disebut di awal tulisan ini yaitu antara lain dukungan perbankkan, kebijakan fiskal, kebijakan pengolahan sumber daya alam nasional, iklim investasi nasional dan sebagainya. Kalaupun ada industri tekstil kita yang masih bisa bersaing dengan struktur industri yang ada saat ini bisa saja terjadi dengan cara menekan biaya buruh, karena satu-satunya itu yang masih bisa di control oleh para produsen tekstil. Kalau hanya dengan cara menekan buruh, bagaimana rakyat bisa sejahtera?

Belum terlambat
Meskipun Indonesia sudah diserbu oleh produk TPT dari China tapi untuk kedepan kita tidak perlu terlalu pesimistis. Masih belum terlambat untuk bangkit membangun dan memperbaiki struktur industri hulu (upstream) – industri antara (intermediate)-industru hilir (down stream) yang kuat dan berimbang. Lebih baik dimulai dari sekarang daripada tidak memulai sama sekali. Kita masih memiliki sumber daya berupa bahan baku, pasar domestik yang besar serta tenaga-tenaga terampil dan berpengalaman. Sebagian dari kita masih memiliki semangat juang untuk membangun industri yang kokoh meskipun pengelolaannya bukan oleh Kementerian Kimia seperti di China dan India tapi di Kementrian Perindustrian RI yang pada periode 2009-2014 ditangani oleh level “Direktur”, padahal pada periode sebelumnya ditangani oleh level “Dirjen”. Namun sudah adakah program kerja yang menuju kearah itu? Dan siapakah yang harus menjadi pelopor untuk berjuang?
Wallahuallam bissawab